Rini Suparmiati

Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila dasar Pembentuk Karakter Bangsa

BELAJAR MENURUT GAGNE 10 Juni 2012

Filed under: Galery — rinisuparmiati @ 12:33 pm

PEMBAHASAN

Dalam menjalani kehidupannya, manusia pasti selalu berusaha hidup kearah yang lebih baik. Untuk menuju kearah yang lebih baik manusia harus belajar. Belajar dari berbagai hal yang terjadi dalam kehidupannya. Belajar adalah suatu aktivitas mental (psikis) yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan yang bersifat relative konstan[1]. Sedangkan pengertian belajar menurut  R.Gagne adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku[2]

Dalam suatu proses belajar manusia memiliki beragam potensi, karakter, dan kebutuhan yang berbeda dengan manusia yang lainnya. Maka dari itu tipe-tipe belajar yang dilakukan manusia pun menjadi beragam. 

Berikut merupakan tipe-tipe belajar yang dikemukakan oleh Gagne. Gagne mencatat ada delapan tipe belajar, yaitu:

  1. Belajar Isyarat (signal learning). Ternyata tidak semua reaksi spontan manusia terhadap stimulus sebenarnya tidak menimbulkan respons. Dalam konteks inilah signal learning terjadi. Contohnya yaitu seorang guru yang memberikan isyarat kepada muridnya yang gaduh dengan bahasa tubuh tangan diangkat kemudian diturunkan.
  2. Belajar stimulus respon. Belajar tipe ini memberikan respons yang tepat terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi yang tepat diberikan penguatan (reinforcement) sehingga terbentuk prilaku tertentu shaping. Kondisi yang diperlukan untuk berlangsungnya tipe belajar ini adalah factor pengutan (reinforcement). Kemampuan tidak diperoleh dengan tiba-tiba, akan tetapi melalui latihan-latihan, respon dapat diatur dan dikuasai, respon diperkuat dengan imbalan atau reword[3].

Contohnya yaitu seorang guru memberikan suatu bentuk pertanyaan atau gambaran tentang sesuatu yang kemudian ditanggapi oleh muridnya. Guru memberi pertanyaan kemudian murid menjawab.

  1.  Belajar merantaikan (chaining) . Tipe belajar ini merupakan cara belajar dengan membuat gerakan-gerakan motorik, sehingga akhirnya membentuk rangkaian gerak dalam urutan tertentu. Contohnya yaitu pengajaran tari atau senam yang dari awal membutuhkan proses-proses dan tahapan untuk mencapai tujuannya.
  2. Belajar asosiasi verbal  (verbal association).  Tipe belajar verbal association  merupakan belajar menghubungkan suatu kata dengan suatu objek yang berupa benda, orang atau kejadian dan merangkaiakn sejumlah kata dalam urutan yang tepat. Contohnya yaitu Membuat langkah kerja dari suatu praktek dengan bntuan alat atau objek tertentu. Membuat prosedur dari praktek kayu.
  3. Belajar membedakan (discrimination).  Tipe belajar discrimination  memberikan reaksi yang berbeda-beda pada stimulus yang mempunyai kesamaan. Contohnya yaitu seorang guru memberikan sebuah bentuk pertanyaan dalam berupa kata-kata atau benda yang mempunyai jawaban yang mempunyai banyak versi tetapi masih dalam satu bagian dalam jawaban yang benar. Guru memberikan sebuah bentuk (kubus) siswa menerka ada yang bilang berbentuk kotak, seperti kotak kardus, kubus, dsb.
  4. Belajar konsep (cocept learning).  Belajar mengklasifikasikan stimulus, atau menempatkan objek-objek dalam kelompok tertentu yang membentuk suatu konsep. (konsep : satuan arti yang mewakili kesamaan ciri). Contohnya yaitu memahami sebuah prosedur dalam suatu praktek atau juga teori. Memahami prosedur praktek uji bahan sebelum praktek, atau konsep dalam kuliah mekanika teknik.
  5. Belajar dalil (rule learning)  tipe belajar learning merupakan tipe belajar untuk menghasilakan aturan atau kaidah yang terdiri dari penggabungan bebrapa konsep. Hubungan antara konsep biasanya dituangkan dalam bentuk kalimat. Contohnya yaitu seorang guru memberikan hukuman kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas yang merupakan kewajiban siswa, dalam hal itu hukuman diberikan supaya siswa tidak mengulangi kesalahannya.
  6. Belajar memecahkan masalah (problem solving). Tipe belajar prolem solving merupakan tipe belajar  yang menggabungkan beberapa kaidah untuk memecahkan masalah, sehingga terbenuk kaedah yang lebih tinggi. Contohnya yaitu seorang guru memberikan kasus atau permasalahan kepada siswa-siswanya untuk memancing otak mereka mencari jawaban atau penyelesaian dari masalah tersebut.

Selain mengemukakan 8 tipe belajar diatas Gagne telah mengelompokkan hasil-hasil belajar yang mempunyai cirri-ciri sama dalam satu kategori. Yaitu:

  1. Keterampilan intelektual: kemampuan seseorang untuk  berinteraksi dengan lingkungannya dengan menggunakan symbol huruf, angka, kata atau gambar.
  2.  Informasi verbal: seseorang belajar menyatakan atau menceritakan suatu fakta atau suatu pristiwa secara lisan atau tertulis, termasuk dengan cara menggambar.
  3. Strategi kognitif: kemampuan seseorang untuk mengatur proses belajarnya sendiri, mengingat dan berfikir.
  4. Keterampilan motorik: seseorang belajar melakukan gerakan secara teratur dalam urutan tertentu. Cirri khasnya adalah otomatisme, yaitu gerakan berlangsung secara teratur dalam berjalan dengan lancar dan luwes.
  5. Sikap: keadaan mental yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan pilihan-pilihan dalam bertindak.

 

Setelah memaparka jenis-jenis belajar menurut Ggne berikut adalah jenis-jenis belajar menurut Bloom. Seorang ahli pendidikan yang terkenal sebagai pencetus konsep taksonomi belajar ini mempunyai nama lengkap Benyamin S Bloom (1956). Taksonomi belajar  adalah pengelompokan tujuan belajar berdasarkan doamain atau kawasan belajar[4]. Kawasan belajar tersebut yaitu:

  1. Cognitive Domain (Kawasan Kognitif)

Prilaku yang merupakan proses berfikir atau prilaku yang termasuk hasil kerja otak. Beberapa contoh berikut termasuk kawasan kogniif: menyebutkan definisi manajemen, membedakan fungsi meja dan kursi, menggambarakan kegiatan proyek dengan PERT, menjabarakan prilaku umum menjadi prilaku khusu, menyusun desain intruksional. Dan lain-lain. Beberapa kemampuan kognitif tersebut, anatara lain:

  1. Pengetahuan, tentang suatu materi yang dipelajari
  2. Pemahaman, memahami makna materi.
  3. Aplikasi atau penerapan penggunaan materi atau aturan teoritis yang prinsip.
  4. Analisa, sebuah proses analisis teoritis dengan menggunakan kemampuan akal.
  5. Sintesa, kemampuan memadukan konsep, sehingga menemukan konsep baru.
  6. Evaluasi, kemampuan melakukan evaluative atas penguasaan materi pengetahuan.

Pada tahun 2001 dalam resived taxonomy, Aderson dan Krathwohl merevisi kawasan kognitif. Menurutnya terdapat dua kategori yaitu dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan. Pada dimesi proses kognitif, ada enam jenjang tujuan belajar, yaitu sebagai berikut.

  1. Mengingat: meningkatkan  ingatan atas materi yang disajikan dalam bentuk yang sama seperti yang diajarkan.
  2. Mengerti: mampu membangun arti dari pesan pembelajaran, termasuk komunikasi lilsan, tulisan maupun grafis.
  3. Memakai: menggunakan prosedur untuk mengerjakan latihan maupun memecahkan masalah.
  4. Menganalisis: memecah bahan-bahan ke dalam unsure-unsur pokoknya dan menentukan bagaimana bagian-bagaian saling berhubungan satu sama lain  dan kepada seluruh struktur.
  5. Menilai: membuat pertimbangan berdasarkan criteria dan standar tertentu.
  6. Mencipta: membuat suatu produk yang baru dengan mengatur kembali unsure-unsur atau bagaian-bagian dalam suatu pola atau struktur yang belum pernah ada sebelumnya.

Pada dimensi pengetahuan, ada empat kategori, yaitu:

  1. Fakta (factual knowledge):  berisi unsure-unsur dasar yang harus diketahui siswa jika mereka akan diperkenalkan dengan satu mata pelajaran tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu.
  2. Konsep conceptual knowledge) : meliputui skema, model mental atau teori dalam berbagai model psikologi kognitif.
  3. Prosedur (procedural knowledge) : pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, biasanya berupa seperangkat urutan atau langkah-langkah yang harus diikuti.
  4. Metakognitif (metacognitif knowledge) :pengetahuan tentang pemahaman umum, seperti kesadaran tentang sesuatu dan pengetahuan tentang pemahaman pribadi seseorng.

 

  1. Affective Domain (Kawasan Afektif)

Prilaku yang dimunculkan seseorang sebagai pertanda kecendrungannya untuk membuat pilihan atau keputusan untuk beraksi dalam lingkungan tertenu. Contoh dalam kawasan afektif:

-menganggukan kepala sebagai tanda setuju

- meloncat dengan muka berseri-seri sebagai tanda keriangan,

-pergi ke mesjid atau ke gereja sebagai prilaku orang kepada Tuhan YME.

Kawasan afektif menurut krathwohl, Bloom dan Masia (1964), meliputi tujuan belajar yang berkenaan dengan minat, siakp dan nilai serta pengembangan penghargaan dan penyesuain diri. Kawasan ini dalam lima jenjang tujuan, yaitu sebagai berikut:

  1. Penerimaan (receiving): meliputi kesadaran akan adanya suatu system nilai, ingin menerima nilai, dan memperhatikan nilai tersebut, misalnya siswa menerima sikap jujur sebagia sesuatu yang diperlukan.
  2. Pemberian respons (responding): meliputi sikap ingin merespons terhadap system, puas dalam memberi  respons, misalnya bersikap jujur dalam setiap tindakannya.
  3. Pemberian nilai atau penghargaan penilaian meliputi penerimaan terhadap suatu system nilai yang disukai dan memberikan komitmen untuk menggunakan system nilai tertentu, misalnya jika seseorang telah menerima sikap jujur, ia akan selalu komit dengan kejujuran, menghargai orang yang bersikap jujur dan ia juga berprilaku jujur.
  4. Pengorganisasian (organization): meliputi memilah dan menghimpun system nilai yang akan digunakan, misalnya berprilaku jujur berhubungan dengan nilai-nilai yang lain seperti kedisiplinan, kemandirian, keterbukaan, dan lain-lain.
  5. Karakterisasi (characterization): karakteristik meliputi prilaku secara terus menerus sesuai dengan system nilai yang telah di organisasikannya, misalnya karakter dan gaya hidup seseorang, sehingga ia dikenal sebagai pribadi yang jujur; keteraturan pribadi, social dan emoosi seseorang sehingga dikenal sebagai orang yang bijaksana.

 

  1. Psychomotor Domain (Kawasan psikomotor)

Domain ini berebntuk gerakan tubuh, antara lain seperti berlari, melompat, melempar, berputar, memukul, menendang, dan lain-lain. Dave (1970) mengemukakan llima jenjang belajar pada ranah psikomotor, kelima jenjang tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Meniru: kemampuan mengamati suatu gerakan agar dapat merespons.
  2. Menerapkan: kemampuan mengikuti pengarahan, gerakan pilihan dan pendukung dengan membayangkan gerakan orang lain.
  3. Memantapkan: kemampuan memberikan respons yang terkoreksi atau respons dengan kesalahan-kesalahan terbatas atau minimal.
  4. Merangkai: koordinasi rangkaian gerak dengan membuat aturan yamg tepat.
  5. Naturalisasi: gerakan yang dilakukan secra rutin dengan menggunakan energy fisik dan psikis yang minimal.

[1] Evelin siregar dan Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran (Bogor.2010: Ghalia Indonesia), hal.5

[2] Djamarah dan Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; (Rineka Cipta; 1999) hal 22

[3] http://www.masbied.com/2010/03/20/teori-belajar-gagne/.diakses pada tanggal 20-02-2012 pkl.20:38 WIB

 

[4] Evelin siregar dan Hartini Nara, Teori belajar dan pembelajar. (Bogor.2010:Ghalia Indonesia), hal 8

ub�, e��justify;line-height:150%’>Pasal 95

 

 

About these ads
 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.